Kesalahan Pelafalan yang Membuat Listening Sulit Berkembang
Pernah merasa sudah belajar listening berkali-kali, tetapi tetap saja sulit memahami percakapan bahasa Inggris? Sudah hafal banyak vocabulary, tetapi ketika mendengar native speaker berbicara, rasanya semua kata berubah menjadi satu suara yang cepat?
Bisa jadi masalahnya bukan hanya pada kemampuan listening, tetapi juga pada pronunciation atau pelafalan yang belum tepat.
Pronunciation dan listening sebenarnya saling berkaitan. Ketika kita terbiasa mengucapkan sebuah kata dengan cara yang salah, otak juga bisa kesulitan mengenali kata tersebut ketika mendengarnya dari orang lain.
- Mengucapkan Kata Sesuai Tulisan
Salah satu kesalahan paling umum adalah menganggap setiap kata bahasa Inggris harus dibaca sesuai dengan tulisannya.
Contohnya:
- comfortable tidak dibaca seperti com-for-ta-ble
- vegetable tidak perlu dibaca dengan semua suku katanya
- Wednesday tidak dibaca sesuai seluruh hurufnya
- often memiliki beberapa variasi pengucapan yang umum digunakan
Ketika kita hanya mengenali versi tulisan, kita bisa kesulitan ketika mendengar bentuk pengucapan sebenarnya.
Solusi: jangan hanya menghafal spelling. Pelajari juga bagaimana sebuah kata benar-benar diucapkan.
- Tidak Membedakan Bunyi /F/ dan /V/
Bunyi /f/ dan /v/ cukup sering tertukar.
Contohnya:
- fan vs van
- fine vs vine
- leaf vs leave
Perbedaannya memang terlihat kecil, tetapi dalam percakapan, satu perubahan bunyi dapat membuat kata yang terdengar menjadi berbeda.
Untuk /f/, gigi atas menyentuh bibir bawah dan udara keluar tanpa getaran suara.
Sedangkan pada /v/, posisi mulut hampir sama, tetapi terdapat getaran pada suara.
Latihan membedakan kedua bunyi ini dapat membantu telinga menjadi lebih sensitif terhadap perbedaan suara.
- Mengucapkan Bunyi “TH” dengan Cara yang Sama seperti “T” atau “D”
Bunyi TH sering menjadi tantangan bagi pembelajar bahasa Inggris.
Misalnya:
- think
- three
- this
- that
- they
Ada dua bunyi TH yang umum, yaitu /θ/ dan /ð/.
Jika kita terbiasa mengganti bunyi tersebut dengan /t/, /d/, atau bunyi lainnya, kita juga bisa kesulitan ketika mendengarkan native speaker.
Karena itu, biasakan mengenali dan menghasilkan bunyi TH secara tepat.
- Terlalu Fokus pada Setiap Huruf
Dalam bahasa Inggris, tidak semua huruf mendapatkan tekanan yang sama.
Dalam percakapan alami, beberapa bunyi bisa terdengar lebih lemah, menyatu, atau bahkan tidak terdengar jelas.
Misalnya:
“Did you eat?”
Dalam percakapan cepat, bunyinya bisa terdengar lebih seperti:
“Didja eat?”
Jika kita hanya terbiasa mendengar bahasa Inggris dari buku atau membaca kata satu per satu, bentuk seperti ini bisa terasa asing.
Listening membutuhkan kemampuan mengenali suara dalam konteks, bukan hanya mengenali spelling.
- Tidak Memahami Word Stress
Setiap kata memiliki pola tekanan atau word stress.
Contohnya:
- PREsent sebagai noun
- preSENT sebagai verb
Perubahan tekanan dapat memengaruhi cara sebuah kata terdengar.
Jika pronunciation kita selalu memberikan tekanan pada bagian yang salah, kita mungkin akan kesulitan mengenali kata yang sama ketika diucapkan dengan tekanan yang benar.
Karena itu, ketika belajar vocabulary baru, jangan hanya mencatat:
important = penting
Tetapi perhatikan juga bagaimana kata tersebut diucapkan dan bagian mana yang mendapatkan tekanan.
- Mengucapkan Semua Kata dengan Jelas dan Terpisah
Saat belajar speaking, kita mungkin terbiasa mengucapkan:
“What / are / you / going / to / do?”
Namun dalam percakapan alami, kata-kata tersebut dapat terdengar lebih menyatu.
Misalnya:
“Whaddaya gonna do?”
Bukan berarti kita harus selalu berbicara seperti itu. Namun, kita perlu mengenali connected speech agar tidak kaget ketika mendengarnya.
Beberapa bentuk yang perlu dikenali antara lain:
- want to → wanna
- going to → gonna
- have to → hafta
- got to → gotta
Penggunaan bentuk tersebut bergantung pada konteks dan ragam bahasa, tetapi kemampuan mengenalinya sangat membantu dalam listening.
- Tidak Mengenali Weak Forms
Dalam percakapan bahasa Inggris, kata-kata tertentu sering diucapkan dengan bentuk yang lebih lemah.
Contohnya kata:
- to
- for
- and
- can
- of
Kata and, misalnya, sering terdengar seperti bunyi pendek yang berbeda dari pengucapan ketika kata tersebut berdiri sendiri.
Jika kita selalu mengharapkan setiap kata terdengar secara lengkap dan jelas, listening akan terasa jauh lebih sulit.
- Salah Mengucapkan Kata yang Sering Didengar
Ada kata-kata yang sebenarnya sering kita dengar, tetapi kita mengucapkannya dengan cara yang berbeda.
Contohnya:
“comfortable”
Banyak pelajar mengucapkannya berdasarkan spelling, padahal pengucapan dalam percakapan biasanya lebih ringkas.
Hal yang sama dapat terjadi pada kata seperti:
- interesting
- different
- probably
- temperature
- chocolate
Semakin sering kita mendengar dan menirukan pengucapan alami, semakin mudah otak menghubungkan suara dengan kata.
- Tidak Terbiasa dengan Linking Sound
Dalam percakapan bahasa Inggris, satu kata dapat terhubung dengan kata berikutnya.
Contohnya:
“Take it.”
Ketika diucapkan secara natural, bunyinya tidak selalu terdengar seperti dua kata yang benar-benar terpisah.
Fenomena seperti ini disebut linking dan merupakan bagian dari connected speech.
Jika telinga kita hanya terbiasa dengan kata yang diucapkan satu per satu, percakapan natural dapat terdengar seperti satu rangkaian suara yang panjang.
- Jarang Berlatih Menirukan Audio
Mendengarkan saja belum tentu cukup.
Coba lakukan metode shadowing.
Caranya:
- Pilih audio pendek berbahasa Inggris.
- Dengarkan satu kali tanpa membaca teks.
- Dengarkan kembali sambil melihat transcript.
- Perhatikan pronunciation dan intonasi.
- Putar kembali audio.
- Tirukan ucapan speaker secara langsung.
- Rekam suara sendiri.
- Bandingkan dengan audio asli.
Dengan cara ini, kita melatih telinga sekaligus mulut.
Kenapa Pronunciation Berpengaruh pada Listening?
Bayangkan kamu mengetahui kata:
“water”
Tetapi selama ini kamu hanya terbiasa dengan satu cara pengucapan.
Ketika mendengar seseorang mengucapkannya dengan aksen atau connected speech yang berbeda, otak mungkin membutuhkan waktu lebih lama untuk mengenalinya.
Itulah sebabnya belajar pronunciation bukan hanya tentang “bagaimana agar orang lain memahami kita”, tetapi juga tentang “bagaimana kita memahami orang lain.”
Pronunciation yang lebih baik dapat membantu kita membangun hubungan antara:
spelling → sound → meaning
Semakin kuat hubungan tersebut, semakin cepat otak mengenali kata ketika mendengarnya.
Baca juga: Latihan Pronunciation dengan Metode Shadowing
Cara Melatih Pronunciation agar Listening Ikut Berkembang
- Dengarkan dan Tirukan
Jangan hanya mendengarkan podcast atau video.
Ambil satu kalimat pendek, kemudian tirukan.
Fokus pada:
- pronunciation
- stress
- intonation
- rhythm
- connected speech
- Gunakan Audio Pendek
Tidak perlu langsung menggunakan video 30 menit.
Mulai dengan audio 10–30 detik.
Ulangi sampai kamu mampu mengikuti pengucapan speaker dengan lebih natural.
- Rekam Suara Sendiri
Rekam ketika membaca atau menirukan sebuah kalimat.
Kemudian bandingkan dengan audio asli.
Kamu bisa mengetahui bagian mana yang masih berbeda.
- Pelajari Bunyi, Bukan Hanya Vocabulary
Ketika menemukan vocabulary baru, pelajari tiga hal:
word + meaning + pronunciation
Jangan hanya menghafal arti katanya.
- Biasakan Mendengar Berbagai Aksen
Setelah kemampuan dasar mulai berkembang, dengarkan berbagai speaker dengan aksen yang berbeda.
Tujuannya bukan untuk menghilangkan aksen, tetapi agar telinga lebih fleksibel dalam mengenali variasi pronunciation.
Latihan Sederhana 15 Menit Sehari
Kalau ingin meningkatkan pronunciation sekaligus listening, coba rutinitas berikut:
Menit 1–3:
Dengarkan audio pendek tanpa transcript.
Menit 4–6:
Dengarkan kembali sambil membaca transcript.
Menit 7–10:
Lakukan shadowing.
Menit 11–13:
Rekam suara sendiri.
Menit 14–15:
Bandingkan pronunciation, stress, dan intonasi.
Lakukan secara konsisten setiap hari.
Tidak harus lama. Yang penting rutin dan fokus.
Kesimpulan
Listening yang sulit berkembang tidak selalu berarti vocabulary kita kurang.
Bisa jadi telinga kita belum terbiasa dengan pronunciation, connected speech, word stress, weak forms, dan linking sound dalam bahasa Inggris.
Karena itu, jangan belajar listening hanya dengan cara mendengarkan.
Latih juga cara mengucapkan apa yang kamu dengar.
Ketika telinga terbiasa mengenali suara dan mulut terbiasa menghasilkan suara tersebut, proses memahami percakapan bahasa Inggris akan menjadi lebih mudah.
Mau pronunciation, speaking, dan listening kamu berkembang lewat latihan yang lebih intensif?
Yuk, belajar langsung di Share-E Kampung Inggris Pare! Di sini kamu bisa mendapatkan lingkungan belajar bahasa Inggris yang mendorong kamu untuk lebih sering mendengar, berbicara, dan mempraktikkan bahasa Inggris dalam aktivitas sehari-hari.
Saatnya bukan cuma tahu bahasa Inggris, tapi juga terbiasa menggunakannya!
Hubungi Share-E Kampung Inggris Pare dan mulai perjalanan belajar bahasa Inggrismu sekarang!

