Mengulik Pesona Kampung Tenun Ikat Bandar Kidul: Dekatnya Tradisi dengan Kampung Inggris Pare

Saat berkunjung ke Kampung Inggris Pare di Kediri, mungkin tak banyak yang tahu bahwa tak jauh dari pusat pembelajaran bahasa tersebut, tersembunyi sebuah desa yang kaya akan warisan budaya: Kampung Tenun Ikat Bandar Kidul. Desa ini, yang berjarak hanya sekitar 10-25 kilometer dari Pare, adalah sentra produksi kain tenun ikat tradisional yang telah berdiri selama puluhan tahun.
Tenun ikat adalah teknik menenun kain di mana benang pakan atau lungsin (atau keduanya) diikat dan dicelup sebelum ditenun. Proses inilah yang menciptakan motif khas pada kain. Di Bandar Kidul, tradisi menenun telah diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi. Konon, usaha tenun di daerah ini sudah ada sejak zaman kolonial Belanda, dan terus berkembang hingga sekarang.

Yang membuat tenun ikat Bandar Kidul unik adalah motif dan pewarnaannya yang khas. Motifnya seringkali terinspirasi dari alam sekitar, seperti bunga, daun, atau pola geometris yang rumit. Dulu, sebagian besar pewarna yang digunakan berasal dari bahan-bahan alami, meskipun kini pewarna sintetis juga banyak digunakan untuk variasi warna yang lebih beragam dan cerah. Namun, beberapa perajin masih setia menggunakan pewarna alami untuk menjaga keaslian dan nilai seni kain mereka.
Perjalanan dari Benang Hingga Kain Indah
Proses pembuatan selembar kain tenun ikat sangatlah detail dan membutuhkan kesabaran luar biasa:
* Pengikatan (Ikat): Ini adalah tahap paling krusial. Benang-benang diikat dengan tali rafia atau plastik sesuai dengan pola yang diinginkan. Bagian yang diikat akan menolak pewarna, sehingga menciptakan motif setelah dicelup.
* Pewarnaan: Benang yang sudah diikat kemudian dicelup ke dalam bak-bak berisi pewarna. Proses ini bisa dilakukan berulang kali untuk menghasilkan berbagai gradasi warna.
* Pengeringan: Setelah dicelup, benang dijemur hingga kering sempurna.
* Penenunan: Benang-benang yang sudah berwarna kemudian diatur pada alat tenun tradisional, biasanya Gedog atau Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM). Di sinilah keindahan motif mulai terlihat saat benang-benang ditenun menjadi kain.
Setiap helai kain tenun ikat dari Bandar Kidul adalah cerminan dari dedikasi dan keterampilan para perajin. Tidak heran jika satu lembar kain bisa memakan waktu berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan, untuk diselesaikan.
Mengunjungi Kampung Tenun dan Manfaatnya
Bagi kamu yang sedang di Kampung Inggris Pare, meluangkan waktu sejenak untuk mengunjungi Kampung Tenun Ikat Bandar Kidul adalah pengalaman yang sangat berharga. Kamu bisa melihat langsung proses pembuatan kain, berinteraksi dengan para perajin, dan bahkan membeli hasil karya mereka sebagai oleh-oleh atau koleksi pribadi. Dengan membeli produk mereka, kamu turut serta mendukung keberlanjutan tradisi dan perekonomian lokal.
Keberadaan Kampung Tenun ini menjadi pengingat bahwa di tengah modernisasi, warisan budaya seperti tenun ikat tetap lestari dan memiliki nilai yang tinggi. Ini adalah contoh indah bagaimana tradisi dan pendidikan (seperti di Kampung Inggris) bisa berdampingan, menawarkan kekayaan pengalaman bagi siapa pun yang mau menjelajahinya.

Sudahkah kamu punya rencana untuk mengunjungi Share-E Kampung Inggris Pare dan mampir ke Kampung Tenun Ikat Bandar Kidul?
(Jessica N.A)


