Ketika “I Don’t Know” Berubah Jadi “I Can”:
Perjalanan Mr. Alex (Pasuruan) dari Nol di Kampung Inggris Pare
(Review Jujur Kursus 5 Bulan di Share-E Kampung Inggris Pare)
Nama saya Alek Hidayatulloh, asal Pasuruan. Sebelum mengenal Pare, saya mengabdi di Pondok Al-Amri. Saat itu, jika ada satu pelajaran yang paling saya hindari, jawabannya jelas: bahasa Inggris.
Bagi saya, bahasa Inggris bukan sekadar sulit. Ia terasa seperti tembok tinggi yang mustahil saya panjat. Setiap mendengar orang berbicara lancar, hati saya justru makin kecil. Saya memilih membenci daripada mencoba.
Hingga suatu hari, Ustaz Ikhwan menawarkan saya untuk kursus di Pare.
Tawaran itu bukan kabar gembira bagi saya.
Itu adalah ujian keberanian.
Saya ragu. Saya takut. Saya merasa tidak mampu. Tapi entah mengapa, ada suara kecil dalam hati yang berkata, “Kalau bukan sekarang, kapan lagi?” Dengan tekad yang gemetar, saya berangkat.
Dan saya tidak tahu bahwa keputusan itu akan mengubah hidup saya.
Membuat Saya Terdiam
Hari pertama di tempat kursus adalah hari yang tidak akan pernah saya lupakan, kala itu saya bertemu dengan Mr.Gud
Beliau bertanya sederhana,
“Apa bahasa Inggrisnya SAYA?”
Sederhana. Sangat sederhana.
Namun saya terdiam. Kaku. Kosong.
Saya tidak tahu jawabannya.
Di depan teman-teman baru, saya merasa sangat kecil. Malu. Ingin menghilang.
Saat itu saya sadar, saya benar-benar mulai dari nol.
Bahkan mungkin dari nol Besar.
Tapi justru di titik itulah saya belajar menerima diri saya apa adanya.
Pelan-Pelan Belajar Mencintai yang Dulu Dibenci
Hari-hari berikutnya tidak mudah. Saya masih sering salah. Masih terbata-bata saat berbicara. Masih takut jika diminta maju ke depan.
Namun suasana belajar yang hangat, materi yang mudah dipahami, dan bimbingan para tutor membuat hati saya perlahan luluh.
Saya mulai menghafal kosakata sedikit demi sedikit.
Saya mulai berani mengucapkan satu kalimat, lalu dua kalimat.
Saya mulai tersenyum setiap kali berhasil memahami sesuatu.
Bahasa Inggris yang dulu saya benci, perlahan berubah menjadi tantangan yang ingin saya taklukkan.
Dan untuk pertama kalinya, saya merasa bangga pada diri sendiri—bukan karena sudah hebat, tapi karena tidak menyerah.
Saat Harus Mengajar, Bukan Lagi Belajar
Lima bulan saya habiskan untuk belajar. Bulan keenam, saya diberi kesempatan untuk praktik mengajar.
Jujur, hati saya kembali gemetar.
Melihat teman-teman yang jauh lebih lancar membuat saya merasa tertinggal. Saya sering bertanya dalam hati,
“Apa saya pantas berdiri di depan kelas?”
Namun saya ingat satu hal:
Saya datang ke Pare bukan untuk menjadi sempurna.
Saya datang untuk bertumbuh.
Dengan segala keterbatasan, saya berdiri di depan kelas. Suara saya mungkin belum sefasih yang lain, tapi niat saya tulus.
Dan ternyata, mengajar jauh lebih berat daripada belajar.
Anak-Anak yang Mengajarkan Arti Kesabaran
Saya mengajar program holiday anak-anak hingga siswa Insantama pusat dan cabang-cabangnya. Di sanalah kesabaran saya benar-benar diuji.
Ada anak yang tak bisa diam.
Ada yang mudah marah.
Ada yang lebih memilih bermain daripada belajar.
Kadang saya pulang dengan hati lelah. Kadang saya merasa gagal.
Tapi di setiap wajah polos itu, saya belajar sesuatu yang tidak pernah diajarkan di buku:
Bahwa mengajar bukan soal siapa paling pintar.
Mengajar adalah tentang siapa yang paling sabar.
Anak-anak itu mungkin sering membuat saya kewalahan, tapi tanpa mereka saya tidak akan pernah belajar menjadi lebih tenang, lebih dewasa, dan lebih ikhlas.
Terima Kasih untuk Proses yang Menguatkan
Hari ini, ketika saya mengenang perjalanan itu, hati saya terasa hangat.
Saya teringat momen ketika saya tidak bisa menjawab arti kata “saya”.
Saya teringat rasa malu yang hampir membuat saya ingin menyerah.
Saya teringat tangis dalam diam saat merasa tertinggal.
Namun semua rasa itu ternyata bukan untuk menjatuhkan saya.
Semua itu membentuk saya.
Terima kasih untuk anak-anak yang menguji kesabaran saya.
Terima kasih untuk Mr. Guud, Mr. Jeck, dan Mr. Iddris yang tidak pernah lelah membimbing saya.
Terima kasih untuk diri saya sendiri yang memilih bertahan.
Pare bukan hanya tempat saya belajar bahasa.
Pare adalah tempat saya belajar menerima kekurangan, memeluk proses, dan berdamai dengan ketakutan.
Bacaa Juga: 7 Alasan Kamu Harus Mulai Latihan Speaking Sekarang
Jika Saya Bisa, Kamu Juga Bisa
Jika hari ini kamu merasa tidak mampu…
Jika kamu merasa kemampuanmu nol…
Jika kamu takut memulai…
Percayalah, saya pernah berada di titik itu.
Saya pernah tidak tahu arti kata “saya”.
Saya pernah merasa paling tertinggal di kelas.
Saya pernah hampir menyerah sebelum benar-benar berjuang.
Tapi semua berubah ketika saya memberi diri saya kesempatan.
Dan jika kamu ingin merasakan proses yang bukan hanya mengubah kemampuan bahasa Inggris, tapi juga menguatkan mental dan kepercayaan diri, maka beranikan dirimu datang ke Share-E Kampung Inggris Pare.
Di sana, kamu tidak dituntut langsung sempurna.
Kamu akan dibimbing dari nol.
Kamu akan ditemani dalam proses.
Kamu akan belajar bahwa salah itu wajar, dan berkembang itu pasti.
Karena perjalanan besar selalu dimulai dari langkah kecil.
Dan mungkin, langkah kecilmu hari ini adalah keputusan untuk bergabung di Share-E.
Siapa tahu, beberapa bulan ke depan, kamulah yang akan menulis kisah perjuanganmu sendiri.


