Writing Skills yang Dinilai Dosen dan Penguji (Bukan Sekadar Grammar!)
Banyak mahasiswa merasa sudah menulis dengan baik karena tidak ada kesalahan grammar besar. Tapi saat hasil keluar, nilainya tidak sesuai harapan. Kenapa?
Karena dosen dan penguji tidak hanya menilai benar atau salah secara tata bahasa. Mereka menilai cara berpikir, struktur argumen, dan kualitas pengembangan ide.
Berikut ini adalah aspek writing skills yang paling sering dinilai dalam tugas kuliah, essay, paper, hingga tes akademik seperti IELTS dan TOEFL.
1 Kejelasan Thesis Statement
Di paragraf pembuka, dosen ingin melihat:
- Apa topik yang dibahas?
- Apa posisi atau fokus tulisanmu?
- Ke mana arah argumen akan dibawa?
Jika thesis statement tidak jelas, seluruh essay akan terasa “mengambang”.
Tips:
Tuliskan satu kalimat utama yang langsung menunjukkan posisi atau fokus analisismu.
2 Struktur yang Rapi dan Logis
Penguji sangat memperhatikan struktur:
- Introduction
- Body paragraph (minimal 2–3 paragraf)
- Conclusion
Setiap paragraf harus punya:
- Topic sentence
- Explanation
- Example / Evidence
- Mini conclusion
Kalau ide meloncat-loncat, meskipun grammar bagus, nilai bisa turun.
3 Pengembangan Ide (Critical Thinking)
Dosen menilai seberapa dalam kamu membahas topik.
Contoh yang kurang kuat:
Online learning is good because it is flexible.
Contoh yang lebih akademik:
Online learning provides flexibility, allowing students to access materials at their own pace, which increases learning autonomy and time efficiency.
Perbedaannya ada pada:
- Detail
- Penjelasan
- Dampak
Semakin dalam analisisnya, semakin tinggi nilainya.
Baca Juga: Writing Skills yang Sering Keluar di Ujian (Dan Cara Menguasainya!)
-
Koherensi dan Cohesion
Tulisan harus mengalir. Gunakan connective words seperti:
- However
- Therefore
- In addition
- On the other hand
- As a result
Tanpa cohesion, tulisan terasa terputus-putus.
- Akademik Tone dan Diksi
Dosen biasanya menghindari:
❌ Bahasa terlalu santai
❌ Singkatan informal (gonna, wanna)
❌ Opini tanpa dasar
Gunakan bahasa formal dan objektif.
Contoh:
- Kurang akademik: I think social media is bad.
- Lebih akademik: Social media may negatively impact users due to its influence on mental health and productivity.
- Relevansi terhadap Pertanyaan
Ini yang sering terjadi:
Mahasiswa menulis panjang, tapi tidak benar-benar menjawab pertanyaan.
Penguji selalu bertanya:
Apakah tulisan ini benar-benar menjawab instruksi soal?
Sebelum menulis, pahami dulu:
- Apakah diminta opini?
- Analisis?
- Perbandingan?
- Solusi?
- Tata Bahasa & Vocabulary (Tetap Penting!)
Grammar tetap dinilai, tapi bukan satu-satunya faktor.
Yang penting:
- Konsisten tense
- Hindari repetitive words
- Gunakan variasi struktur kalimat
Writing yang dinilai dosen bukan soal “English bagus atau tidak”, tapi soal:
✔ Kejelasan argumen
✔ Kedalaman analisis
✔ Struktur yang sistematis
✔ Bahasa akademik yang tepat
✔ Relevansi dengan soal
Karena writing yang powerful bukan sekadar panjang, tapi terarah dan tajam secara logika.
Mau Writing Kamu Naik Level?
Kalau kamu ingin tulisanmu lebih terstruktur, lebih kritis, dan sesuai standar akademik seperti di tes IELTS dan TOEFL, kamu butuh lebih dari sekadar teori — kamu butuh latihan + feedback langsung.
Di Share-E Kampung Inggris Pare, kamu akan belajar:
✨ Teknik mengembangkan ide biar nggak dangkal
✨ Template writing yang aman buat ujian
✨ Evaluasi & koreksi detail dari mentor
Belajar bukan cuma nulis, tapi nulis dengan strategi yang tepat.
Karena nilai bagus bukan kebetulan, tapi hasil latihan yang terarah.
Yuk upgrade writing skill kamu sekarang juga bareng Share-E!





